How is LIFE after AIESEC? Part 3

How is LIFE after AIESEC? (World Citizen Episode)

Hello young people!

Masih penasaran dengan cerita alumni AIESEC? Kali ini ada Kak Maria Hattya, Campaigner at United Nation Development Programme Indonesia. 

Halo Kak Hattya! Kalau boleh tahu sekarang Kak Hattya lagi sibuk apa sih? 

Hi, aku sekarang jadi Campaingner di United Nation Development Programme Indonesia. Rolenya adalah untuk mengkampanyekan projek-projek dari UNDP Indonesia, seperti saat ini sedang launching project pembangunan di NTT yang bekerjasama dengan Bank Pembangunan NTT.

Pengalaman di sana menantang banget, karena saat ini UNDP lagi shifting dari traditional development. Jadi nggak harus nunggu Negara maju untuk ngasih dana untuk melakukan pembangunan. Walaupun masih termasuk lower-middle-income country, namun itu membuktikan kalau Indonesia udah lebih mampu untuk mendanai pembangunannya sendiri. Dan untuk melakukan pembangunan tersebut, kita bisa cari dana dari sektor swasta, dana publik, dan conducting donors. We are changing the way we do developments and project.

Wah keren banget kak pengalamannya! Nah sekarang, kita mau kepoin pengalaman Kak Hattya selama di AIESEC. Apa saja sih yang Kak Hattya dapet di AIESEC?

AIESEC membuka kesempatan untuk belajar, dan skill yang bisa aku gunakan sampai sekarang adalah menjadi pemimpin dalam sebuah project. Di AIESEC kita dituntut untuk bekerja sama dengan orang-orang yang datang dari latar belakang dan budaya yang berbeda, sehingga member lebih adaptif. Sense of adaptivity yang tinggi membuat kita bisa kerja lebih baik. Terus anggota AIESEC juga bekerja pada lingkungan yang multiculture. Lingkungan yang sangat beragam mengajarkan para anggota untuk juga menanamkan the culture of accepting, bagaimana menerima perbedaan dengan cepat. Karena tidak semua yang ada di dunia itu hitam dan putih. Justru differences is embrace, it’s a good thing, dan kalau kamu sudah bisa menerima perbedaan dan tidak melihat semua hal pada hitam dan putih, you can see an issue from 360 degrees. It’s important to put your feet on other people’s feet, to know how things run from another perspective.

Waw, setuju banget ka ! Terakhir nih ka, ada gak sih pengaruh AIESEC sama kesibukan kak Hattya yang sekarang?

As an International organization, I can learn to be a global citizen. I’m seeing development in Indonesia, and I’m taking interest in contributing. Aku belajar kalau pembangunan sebuah negara bukan hanya kerja pemerintah, namun kerja dari semua masyarakatnya.

How is LIFE after AIESEC? Part 2

How is LIFE after AIESEC? (Solution-Oriented Episode)

Hello young people!

Kalau di Part 1 kita udah simak cerita Kak Inez dengan self-awarenya, gimana dengan alumni lain yang udah lebih lama meninggalkan AIESEC? Penasaran? yuk kita simak salah satu cuplikan hasil wawancara dengan Alumni lainnya asal AIESEC in Bandung, Mas Regi Wahyu, CEO of Dattabot, Big Data Analytics Company yang mengaku kalau solution-oriented yang didapatkan di AIESEC berpengaruh dengan cara memimpinnya di perusahan.

Halo Mas Regi Wahyu! Kita dari AIESEC nih, boleh gak minta waktu Mas Regi buat ceritain pengalaman dan kesibukan Mas Regi sekarang?

Wah kalau sekarang aku lagi sibuk ngejalanin perusahaan aku sendiri sebagai CEO dari perusahaan Dattabot. Dattabot ini perusahaan yang bergerak di bidang Big Data Analytics. Sebagai CEO, aku bertanggung jawab untuk memimpin timku agar bisa membuat bisnis ini tetap tumbuh dan berkembang.

Wah sukses terus ya mas regi, buat perusahannya! Nah sekarang, kita mau kepoin pengalaman Mas Regi selama di AIESEC. Apa saja yang Mas Regi dapatkan selama menjadi AIESECer?

My experience in AIESEC was the foundation of my life-long effort to build network and valuable relationships. Hubungan yang aku jalin melalui keikutsertaan aku lewat proyek di AIESEC adalah sesuatu yang membantu aku banget untuk sampe ke diri aku yang sekarang. Selain itu, pengalaman Exchange di AIESEC juga mengubah aku menjadi world citizen. Sebuah pengalaman yang membuat aku sadar kalo orang Indonesia memiliki apa yang dia butuhkan untuk bisa bersaing dengan SIAPUN di dunia. In the end, we just need to have a strong vision and cultivate our GRIT – a strong resilience and courage.

Aku harus nekenin kalau solution-oriented ini ga cuma aku dapetin di AIESEC. AIESEC is just one of the episode in my life’s journey. These leadership quality is something that I learn from more than a decade of ups-and-downs as a businessman and entrepreneur. Aku jadikan kegagalan yang aku alami sebagai pelajaran, bukannya sesuatu yang memalukan. Tapi, aku akui, pengalaman itu dimulai dari bagaimana aku memanfaatkan pembelajaran dan pengetahuan yang aku dapet dari AIESEC sambil merencanakan hidup aku serta membayangkan bagimana aku ingin diingat orang. 

Waw, such an insightful story Mas Regi! Terakhir nih ka, gimana sih mengkorelasikan solution-oriented yang didapat dengan kesibukan Mas Regi sebagai CEO?

 

Running your own business is a constant marathon of troubleshooting and finding solutions, especially when your company is trying to build something new. Begitu banyak tantangan dan ketidakpastian yang dihadapi. Bahkan, kadang gak ada yang tau bagaimana menyelesaikan masalah tersebut, tak peduli berapa banyak orang yang kamu tanya. That’s why being a CEO could feel a bit lonely. Tapi balik lagi, masalah tersebut gak mungkin selesai dengan sendirinya, so pilihannya cuma kamu harus bangkit dan terus mencoba mencari solusinya dengan tim kamu. Jika kamu gagal, jadikan itu sebuah pembelajaran, jika kamu berhasil, rasa puas terhadap keberhasilan kamu pasti tak akan terganti. 

How is LIFE after AIESEC? Part 1

How is LIFE after AIESEC? (Self-aware Episode)

Hello young people!

Pernah gak sih kepo sama kehidupan AIESECer setelah jadi ‘sarjana AIESEC’? Ngapain sih mereka? Masih ada bekas AIESECnya ga sih mereka setelah lulus?

Daripada bingung dan tambah penasaran, yuk kita simak salah satu cuplikan hasil wawancara dengan Alumni asal AIESEC in Bandung, Kak Inez Natalia, Co-Founder The Intersection Project, dan penulis buku  “Turn Right: A Journey to Purposeful Career” yang mengaku kalau self-aware yang didapatkan di AIESEC berpengaruh hingga kehidupannya sekarang.

Hi Kak Inez! Denger-denger lagi aktif di sebuah proyek ya kak? Boleh ceritain ga kak tentang kesibukannya sekarang?

Aku lagi aktif di The Intersection Project. Proyek ini pusat kolaborasi dari orang-orang yang peduli dan ingin membuat sebuah wadah untuk membantu para dewasa muda mengarahkan kekuatan dan kemampuannya untuk memiliki fokus yang tepat untuk menjalani hidup penuh makna. Kami menyadari bahwa saat ini banyak sekali masalah yang timbul karena ketidaktahuan akan mengapa dan apa yang ingin dilakukan dalam hidup. Aku juga baru launching buku “Turn Right: A Journey to Purposeful Career”. Buku ini merupakan buku yang berusaha untuk mengarahkan para pemuda, agar mengerti purpose dalam membangun career path.

 

Wah keren banget! Sukses terus kak buat proyeknya. Nah sekarang, kita mau kepoin pengalaman Kak Inez selama di AIESEC. Apa saja yang kakak dapatkan selama menjadi AIESECer?

Aku ikut AIESEC di bulan Oktober 2009, terus berlanjut jadi Vice President Talent Management AIESEC Bandung 11/12, Vice President Talent Management AIESEC Indonesia 12/13, dan terakhir President AIESEC Cambodia 13/14.

Banyak sekali hal yang aku dapatkan di AIESEC. Yang pertama adalah mengenai Self Awareness itu sendiri, baik secara professional maupun personal. Self-aware ini menurut aku adalah fundamental utama dari diri seseorang, yang menjadi alasan untuk menentukan pilihan dalam hidup mereka.

Selain itu, aku dapet banget esensi dari the power of possibility and also humanity. “We’re living in a world that is not problem-free. We have option to choose what we do.” AIESEC kasih keyakinan kalau kita bisa melakukan sesuatu dan berkontribusi untuk dunia dengan kekuatan kita masing-masing. Hal ini yang gak aku dapet di organisasi lain. 

 

Inspiratif sekali ka! Nah, gimana sih ka pengalaman AIESEC itu sampe bisa jadi self-awareness yang Kak Inez bilang tadi itu? 

Aku bisa mengembangkan Self Aware di AIESEC, karena AIESEC memberikan self-experience in a challenging environment. AIESEC mengembangkan anggotanya dari learning by doing. Tapi, self aware itu sendiri susah didapatkan kalau tidak ada learning point nya. So, to be self-aware, we have to listen to ourselves and also reflect on what we’ve done in our journey.

AIESEC juga punya acara kaya conference workshop dimana kita bisa berdiskusi tentang pengalaman kita dan mendapatkan insight dan ide tentang bagaimana menjalankan tanggung jawab kita. Ada juga pertanyaan-pertanyaan yang  mentrigger kita untuk lebih memahami dan mengerti tentang diri kita sendiri.

Self-aware ini juga yang sangat berhubungan dengan kegiatan aku sekarang. Buku “Turn Right: A Journey to Purposeful Career” yang aku tulis adalah buku yang mengarahkan orang-orang untuk lebih mengembangkan self-aware di dalam diri mereka sendiri.

 

[AIESEC Alumni Story] – How I Transformed My Life In One Year by Gordon Ching

Hi peeps! There is leadership story from AIESEC alumni about his life transformation in one year.

He is Gordon Ching, former Global Vice President Digital Marketing, AIESEC International term 2014/2015. He was just a shy 18 years old boy from Canada who decided to join an organization called AIESEC. And from there, everything is changed. Let’s check this video out!

Find out how can you start to transform your life like him.

Don’t miss our updates from our channels!
Facebook: AIESEC Indonesia
Twitter: @AIESECINDONESIA
Instagram: @aiesecindonesia