How is LIFE after AIESEC? Part 2

How is LIFE after AIESEC? (Solution-Oriented Episode)

Hello young people!

Kalau di Part 1 kita udah simak cerita Kak Inez dengan self-awarenya, gimana dengan alumni lain yang udah lebih lama meninggalkan AIESEC? Penasaran? yuk kita simak salah satu cuplikan hasil wawancara dengan Alumni lainnya asal AIESEC in Bandung, Mas Regi Wahyu, CEO of Dattabot, Big Data Analytics Company yang mengaku kalau solution-oriented yang didapatkan di AIESEC berpengaruh dengan cara memimpinnya di perusahan.

Halo Mas Regi Wahyu! Kita dari AIESEC nih, boleh gak minta waktu Mas Regi buat ceritain pengalaman dan kesibukan Mas Regi sekarang?

Wah kalau sekarang aku lagi sibuk ngejalanin perusahaan aku sendiri sebagai CEO dari perusahaan Dattabot. Dattabot ini perusahaan yang bergerak di bidang Big Data Analytics. Sebagai CEO, aku bertanggung jawab untuk memimpin timku agar bisa membuat bisnis ini tetap tumbuh dan berkembang.

Wah sukses terus ya mas regi, buat perusahannya! Nah sekarang, kita mau kepoin pengalaman Mas Regi selama di AIESEC. Apa saja yang Mas Regi dapatkan selama menjadi AIESECer?

My experience in AIESEC was the foundation of my life-long effort to build network and valuable relationships. Hubungan yang aku jalin melalui keikutsertaan aku lewat proyek di AIESEC adalah sesuatu yang membantu aku banget untuk sampe ke diri aku yang sekarang. Selain itu, pengalaman Exchange di AIESEC juga mengubah aku menjadi world citizen. Sebuah pengalaman yang membuat aku sadar kalo orang Indonesia memiliki apa yang dia butuhkan untuk bisa bersaing dengan SIAPUN di dunia. In the end, we just need to have a strong vision and cultivate our GRIT – a strong resilience and courage.

Aku harus nekenin kalau solution-oriented ini ga cuma aku dapetin di AIESEC. AIESEC is just one of the episode in my life’s journey. These leadership quality is something that I learn from more than a decade of ups-and-downs as a businessman and entrepreneur. Aku jadikan kegagalan yang aku alami sebagai pelajaran, bukannya sesuatu yang memalukan. Tapi, aku akui, pengalaman itu dimulai dari bagaimana aku memanfaatkan pembelajaran dan pengetahuan yang aku dapet dari AIESEC sambil merencanakan hidup aku serta membayangkan bagimana aku ingin diingat orang. 

Waw, such an insightful story Mas Regi! Terakhir nih ka, gimana sih mengkorelasikan solution-oriented yang didapat dengan kesibukan Mas Regi sebagai CEO?

 

Running your own business is a constant marathon of troubleshooting and finding solutions, especially when your company is trying to build something new. Begitu banyak tantangan dan ketidakpastian yang dihadapi. Bahkan, kadang gak ada yang tau bagaimana menyelesaikan masalah tersebut, tak peduli berapa banyak orang yang kamu tanya. That’s why being a CEO could feel a bit lonely. Tapi balik lagi, masalah tersebut gak mungkin selesai dengan sendirinya, so pilihannya cuma kamu harus bangkit dan terus mencoba mencari solusinya dengan tim kamu. Jika kamu gagal, jadikan itu sebuah pembelajaran, jika kamu berhasil, rasa puas terhadap keberhasilan kamu pasti tak akan terganti. 

How is LIFE after AIESEC? Part 1

How is LIFE after AIESEC? (Self-aware Episode)

Hello young people!

Pernah gak sih kepo sama kehidupan AIESECer setelah jadi ‘sarjana AIESEC’? Ngapain sih mereka? Masih ada bekas AIESECnya ga sih mereka setelah lulus?

Daripada bingung dan tambah penasaran, yuk kita simak salah satu cuplikan hasil wawancara dengan Alumni asal AIESEC in Bandung, Kak Inez Natalia, Co-Founder The Intersection Project, dan penulis buku  “Turn Right: A Journey to Purposeful Career” yang mengaku kalau self-aware yang didapatkan di AIESEC berpengaruh hingga kehidupannya sekarang.

Hi Kak Inez! Denger-denger lagi aktif di sebuah proyek ya kak? Boleh ceritain ga kak tentang kesibukannya sekarang?

Aku lagi aktif di The Intersection Project. Proyek ini pusat kolaborasi dari orang-orang yang peduli dan ingin membuat sebuah wadah untuk membantu para dewasa muda mengarahkan kekuatan dan kemampuannya untuk memiliki fokus yang tepat untuk menjalani hidup penuh makna. Kami menyadari bahwa saat ini banyak sekali masalah yang timbul karena ketidaktahuan akan mengapa dan apa yang ingin dilakukan dalam hidup. Aku juga baru launching buku “Turn Right: A Journey to Purposeful Career”. Buku ini merupakan buku yang berusaha untuk mengarahkan para pemuda, agar mengerti purpose dalam membangun career path.

 

Wah keren banget! Sukses terus kak buat proyeknya. Nah sekarang, kita mau kepoin pengalaman Kak Inez selama di AIESEC. Apa saja yang kakak dapatkan selama menjadi AIESECer?

Aku ikut AIESEC di bulan Oktober 2009, terus berlanjut jadi Vice President Talent Management AIESEC Bandung 11/12, Vice President Talent Management AIESEC Indonesia 12/13, dan terakhir President AIESEC Cambodia 13/14.

Banyak sekali hal yang aku dapatkan di AIESEC. Yang pertama adalah mengenai Self Awareness itu sendiri, baik secara professional maupun personal. Self-aware ini menurut aku adalah fundamental utama dari diri seseorang, yang menjadi alasan untuk menentukan pilihan dalam hidup mereka.

Selain itu, aku dapet banget esensi dari the power of possibility and also humanity. “We’re living in a world that is not problem-free. We have option to choose what we do.” AIESEC kasih keyakinan kalau kita bisa melakukan sesuatu dan berkontribusi untuk dunia dengan kekuatan kita masing-masing. Hal ini yang gak aku dapet di organisasi lain. 

 

Inspiratif sekali ka! Nah, gimana sih ka pengalaman AIESEC itu sampe bisa jadi self-awareness yang Kak Inez bilang tadi itu? 

Aku bisa mengembangkan Self Aware di AIESEC, karena AIESEC memberikan self-experience in a challenging environment. AIESEC mengembangkan anggotanya dari learning by doing. Tapi, self aware itu sendiri susah didapatkan kalau tidak ada learning point nya. So, to be self-aware, we have to listen to ourselves and also reflect on what we’ve done in our journey.

AIESEC juga punya acara kaya conference workshop dimana kita bisa berdiskusi tentang pengalaman kita dan mendapatkan insight dan ide tentang bagaimana menjalankan tanggung jawab kita. Ada juga pertanyaan-pertanyaan yang  mentrigger kita untuk lebih memahami dan mengerti tentang diri kita sendiri.

Self-aware ini juga yang sangat berhubungan dengan kegiatan aku sekarang. Buku “Turn Right: A Journey to Purposeful Career” yang aku tulis adalah buku yang mengarahkan orang-orang untuk lebih mengembangkan self-aware di dalam diri mereka sendiri.

 

AIESEC in UNDIP Kirimkan 86 Mahasiswa ke Luar Negeri melalui Program Global Volunteer

AIESEC in UNDIP Kirimkan 86 Mahasiswa ke Luar Negeri melalui Program Global Volunteer

AIESEC in UNDIP secara resmi mengirimkan 86 Mahasiswa untuk melakukan program exchange di luar negeri melalui program Global Volunteer. 86 Mahasiswa ini bukan hanya berasal dari Undip, tetapi juga berasal dari Universitas lain yang berada di Kota Semarang seperti Unika dan Unnes dengan komposisi 90% Mahasiswa Undip dan 10% Mahasiswa Universitas lainnya. 86 Mahasiswa ini nantinya akan menjadi representatif negara Indonesia dalam menjalankan project sosial di luar negeri seperti Thailand, Mainland Of China, India hingga Romania.

foto-2

Berbeda dengan program exchange pada umumnya yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan di Universitas luar negeri, program exchange yang diadakan oleh AIESEC ini dirancang untuk meberikan kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk berpartisipasi dalam menjalankan project sosial berskala Internasional di luar negeri selama 6 hingga 8 minggu. Project yang akan dijalankan memiliki isu yang beragam seperti edukasi, budaya, lingkungan, kesehatan hingga entrepreneurship. Nantinya Mahasiswa yang dikirim keluar negeri ini akan menjalankan project sosial bersama dengan mahasiswa lain yang bersal dari berbagai negara di dunia. Program Global Volunteer ini bertujuan untuk mengkoneksikan anak – anak muda dari seluruh dunia agar mereka bisa saling memahami satu sama lain serta memiliki pandangan yang sama tentang kondisi dunia saat ini sehingga nantinya mereka dapat menciptakan dunia yang lebih baik di masa yang akan datang.

foto-3

Seluruh mahasiswa yang akan berangkat keluar negeri ini secara resmi dilepas oleh Rektor Universitas Diponegoro, Bapak Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.H. Beliau berpesan agar mahasiswa dapat mengambil pelajaran sebanyak – banyak nya dari program ini dan selalu menjaga nama baik Universitas maupun negara Indonesia di mata dunia. Beliau juga menyampaikan bahwa program Global Volunteer ini nantinya akan di sinergikan dengan program Universitas untuk menjadi semacam program KKN Internasional.

Liburan sambil merasakan pengalaman menjalankan social project di luar negeri, berani?

Liburan sambil merasakan pengalaman menjalankan social project di luar negeri, berani?



331300

sadsadsadasdasdasdasdsafasf

Libur kuliah rasanya datang lebih cepat dari yang kita kira. Ya, libur musim dingin, liburan yang paling ditunggu sepanjang tahun, setuju kan? Nah kira – kira apa aja hal yang bakal kamu lakuin selama liburan musim dingin ini? Movie marathon? Nonton konser band kesukaan kamu? Atau travelling bareng temen atau keluarga? Apapun rencana kamu, yang pasti ada ribuan cara untuk bikin liburan musim dingin ini jadi the best holiday ever!

Tapi, bagaimana jika menikmati liburan musim dingin nanti dengan travelling  sambil menjalankan social project di luar negeri seperti yang dilakukan Cindy, Felisita dan Berli? Cindy, Felista dan Berli adalah sebagian dari mahasiswa Universitas Diponegoro yang memutuskan untuk menikmati masa libur musim dingin mereka dengan menjalankan social project di luar negeri melalui program Global Volunteer yang diselenggarakan oleh AIESEC. Yuk cari tau hal apa aja yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk menikmati liburan dengan cara super challanging ini!

Dimulai dari Cindy, mahasiswi dengan nama lengkap Albertha Christalanina Gunawan ini merupakan mahasiswi jurusan Manajemen 2016 Undip. Di libur musim dingin ini, Cindy akan menapakkan kaki untuk yang pertama kalinya di negara Romania. Disana dia akan menjalankan social project dengan nama Become. Sebuah project yang berfokus pada isu entrepreneurship. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi Cindy karena harus pergi ke Romania seorang diri selama libur musim dingin ini. Namun hal inilah yang membuat Cindy merasa excited mengikuti program Global Volunteer ke Romania. Melalui program inilah Cindy bisa keluar dari zona nyaman dan mengeksplorasi serta mempelajari hal – hal baru.

Selanjutnya adalah Felisita, mahasiswi jurusan Hubungan Internasional 2016 Undip ini memilih menjalankan social project di Thailand selama musim dingin ini. Nama project nya adalah Sawasdee 21. Sebuah project yang berfokus pada isu edukasi. Nantinya Felisita akan mengenalkan budaya Indonesia dan memberikan pelajaran bahasa Inggris kepada anak – anak SD dan SMP di Thailand. Felisita sangat mencintai anak – anak. Hal inilah yang membuat Felisita akhirnya memilih project Sawasdee 21 di Thailand. Felisita juga terinspirasi oleh saudaranya yang lebih dulu mengikuti program Global Volunteer dan hal inilah yang membuat Felisita merasa sangat yakin dengan program Global Volunteer yang akan dia ikuti.

Tak kalah menantang dengan Cindy dan Felisita, Berli yang saat ini merupakan mahasiswi Ilmu Hukum 2016 juga akan menikmati liburan musim dingin dengan mejalankan social project di Romania. Berli memilih project yang sama seperti Cindy, yaitu Become Project. Gadis yang memiliki impian membuat sebuah Foundation dalam bidang entrepreneurship untuk anak – anak yang tidak mampu ini memutuskan untuk mengikuti program Global Volunteer karena tertantang untuk mencoba dan merasakan hal yang berbeda dalam kehidupannya. Berli juga yakin, program Global Volunteer ini juga mampu membantu dia dalam meraih impiannya.

Itu dia sedikit cerita dari Cindy, Felista dan Berli yang memilih menikmati liburan musim dingin dengan cara yang nggak mainstream! Liburan seperti ini pasti jadi the best holiday ever bagi mereka. So, selamat berlibur dan ciptakan the best holiday ever versi kamu!

dasdas

Why we would love to work in Google?

Why Is Google A Dream Workplace?

 

1

In 21st century, there is no doubt that Google has won the heart of many Youth that are about to start their work life. Many of the young people would consider themselves lucky if they gain the opportunity to work at Google.

Aside from its name that is huge and sellable in the curriculum vitae, the young generation is actually putting more concern to the intangible things that Google can offer.

Google is the pioneer of a modern work environment, promoting many new values that are fresh and fun to be conducted. Many companies are looking up to Google when it comes to creating workplaces.

What are those intangible things?

 

 

 

Google shows how much it cares about the employees’ personal lives.

Google has proven to the employees how much it cares to their personal lives. It provides things like free cafeteria meals, free use of laundry machines, and a day-care center. This was intended to make the employees stay longer and spend more productive hours at work, because the employees do not have to worry about the little necessities anymore and run away from work earlier.

The flexibility of workplaces – College-kind-of workplace, as they say.

Flexibility is not something you should be worrying about at all when you work at Google. Google is aware that in today’s technology-driven world, employees can easily stay connected to what’s happening with the business without being physically present. The employees sense it and as a result, Google is now well known for its flexibility and the less-stressful trait of its workplace environment.

Google gives many develop space – Encourages emploees to try new things.

Said Robyn Beavers of Google’s Green Business and Operations Strategy in the video profile of the search company: “A really interesting thing about Google is that it always encourages its employees to try new things.” Beavers then revealed that she started out as one of the assistants of the two co-founders back in May 2004 and had begun projects in green energy for Google’s operations in 2005.

It seems like money are not most important anymore, at least for our generation. What do you think?

What to avoid when dealing with millennials

What to avoid when dealing with millennials

What can be the basic mistakes when company dealing with generation Y? Let`s take a closer look. 

 

1. Not offering enough opportunities in the workplaces

Millennials are very driven. They need to know how deep they can dig. Give them space to discover more and make them see that there is so much to offer by the company. Held as many trainings as possible, such as leadership training, self-improvement training, etc. Make the millennial believe that the companies offer such unlimited yet well-elaborated content they can discover in order for them to give themselves opportunities to improve and develop themselves.

changing-travel

2. Unclear explanation of the training’s purpose

Millennials are very concern about their career development and have such huge need to know about things in details. Make sure to make them see how the training being given by your company is applicable to long-term career growth.

 

3. Failure to coach

When it comes to millennials, everything is about engagement, not just entitlement. Set up a great coaching relationship can help them evaluate their progress. Make them learn much in the progress itself rather than too focusing on the outcomes. Also, provide enough feedback as you coach them, because millennial really need to know if they are doing a great job.

 

 

3

4. Leaving the technology behind

This is the most crucial one. One of the greatest strength of the millennial is their sound knowledge of technology. In fact, 70% have “friended” their managers and/or co-workers on Facebook. Therefore, the millennials have zero tolerance for outdated system. They are very interested in connecting with others through what-so-called nowadays as social media. Welcoming the technology and keep up with it is the best way to engage with the millennial.

As long as your company is not doing any of those 4 potential mistakes, then at least your company is on the right track in starting the new engagement strategy to welcome your millennial.

Loud & Proud – Benny Rachmadin

Loud and Proud
Benny Rachmadin

Perkenalkan nama saya Benny Rachmadin. Saya adalah orang yang tumbuh dengan hal-hal yang menantang. Pada masa-masa awal saya sebagai mahasiswa, saya belum memiliki pandangan tentang masa depan yang ingin saya kejar. Saya hanya berniat untuk mengikuti suatu organisasi. Pada saat itu saya tidak memiliki pemikiran apapun tentang organisasi apa yang akan saya coba, namun perasaan saya mengatakan untuk mencoba organisasi ini, yaitu AIESEC. Sebelum mengetahui organisasi ini, saya hanya berusaha meyakinkan diri bahwa apapun organisasi yang saya ikuti akan mengarahkan saya kepada Benny yang lebih baik.

Perjalanan awal saya di AIESEC tidak berjalan dengan begitu mulus. Jika kalian tahu, AIESEC memiliki suatu budaya bernama roll dance. Pertama kali saya melihatnya, saya sama sekali tidak menyangka jika ini adalah organisasi internasional, namun lebih seperti “aliran sesat” yang tidak masuk akal. Namun sejak saya mulai memahami tujuan roll dance untuk memberikan semangat kepada member pada saat conference, saya mulai menikmati perjalanan saya di AIESEC.

Perjalanan panjang ini dimulai dari Staff Public Relation (1998-2000), Vice President Human Resources (2000-2001), Presiden AIESEC Surabaya (2001-2002), hingga akhirnya saya bisa mendapatkan suatu posisi yang benar-benar tidak saya duga sebelumnya, yaitu National Director AIESEC Indonesia (2002-2003). Semua perjalanan itu benar-benar memberikan perubahan yang nyata pada diri saya.

Awalnya, saya adalah orang yang memiliki ego cukup besar. Saya juga tidak bisa menerima perbedaan dengan begitu baik. Begitu pula dengan masa depan saya yang masih abu-abu. Setelah saya bergabung dengan AIESEC, saya benar-benar merasakan apa arti dari perbedaan dan memanfaatkan perbedaan itu untuk terus berkolaborasi. Masa depan saya pun sudah mulai tergambar dengan jelas seperti apa karir yang ingin saya capai nantinya. Berdasarkan pengalaman saya, ada dua hal yang dapat saya ambil dari AIESEC, pertama adalah kepemimpinan, kedua adalah bekerja pada lingkungan dengan kultur yang berbeda-beda namun tetap dalam nilai yang sama.

Semua nilai-nilai yang saya dapatkan di AIESEC akhirnya saya bawa ke lingkungan kerja saya. Saat ini saya bekerja sebagai Assistant Vice President Synergy Division di CT Corpora. Nilai-nilai yang saya bawa adalah bagaimana saya mengatur suatu proyek, melakukan banyak aktivitas bersamaan, serta kemampuan adaptasi yang jauh lebih baik. Tidak lupa bahwa jaringan yang saya dapatkan di AIESEC menjadi salah satu sumber bantuan yang sangat bermanfaat pada posisi saya saat ini.

Menurut saya AIESEC adalah organisasi untuk belajar, bagaikan suatu rumah yang berisikan vitamin, dan kalian sendiri yang memilih vitamin mana yang kalian pilih untuk membangun diri kalian sebelum orang lain mengambilnya. Jangan pernah berekspektasi bahwa AIESEC akan membuat hidup kalian menjadi lebih baik, karena itu bergantung dengan bagaimana cara kalian memanfaatkan semua sumber yang dimiliki oleh AIESEC.

Join, explore, and enjoy the journey!

Generation Y perfect working day?

Generation Y perfect working day?

There are a number of things that guide our generation  in the workplace. We want to be happier than our parents, find more purposeful work and work with better companies. Perfect company for us is aligned with our own personal values. So, with all these desires, what does our ideal work culture look like? We asked AIESEC members from Indonesia.

bez-nazvu-003Leader vs. boss

We love to work for people who inspire is to do great job. We are not pushing forward by things like money or status, but rather by core competencies and personality traits.

Our generation wants to identify certain characteristics in leaders that make us feel great about working for them.

“I need to respect my leader and see the integrity in him, or her, gender is not problem for me at all. When I see that behavior and values are changing between personal life and work life, its not integrity of leader for me,” says Tio.

 

 

 

 

 

bez-nazvu-001

Collaborative over competitive

Gen Y employees don’t abide by this cutthroat style of employment. We know that money and status can’t buy happiness, and would rather work with their colleagues than against them.

According to the research of Intelligence Group Association, is not only collaboration what makes our generation in workspace happier, but also around half of millennials say that workplace friendships are motivating for work and make work more productive.

 

 

 

 

bez-nazvu-002 Put idealism away

We want to work on purposeful projects, thats true, but we also know, that to achieve that, we need to focus on finishing line. Clear job description and supportive colleagues are for as stabile rope we can hold during all day. “Some people think, that our generation is spoiled and lazy, that we cannot think about anything else but our comfort in work. This needs more understanding I think, we are just different, but it doesn`t mean we are bad right,” Dhania.

 

For some can be our generation in workplace like from different planet, so don’t you want to meet us closer?

__________________________________________________________________________________

AIESEC is largest Youth-led organization in the world but also in Indonesia. We are working on purposeful projects, that making difference in society and influencing thousands of people. We just want to make world better place by developing leadership potential of all young people we can reach. So let`s connect with us 🙂

the rules in AIESEC, you will not be shock while you jump into career’s world later on

slide17

“If you know the rules in AIESEC, you will not be shock while you jump into career’s world later on”

That statement is really true and really works on my self.

Well, my name is Zahra Annisa Hasanah. I am the first founder of AIESEC UNSRI and it was the memory that I will never forget and always be remarkable one. I know AIESEC through exchange program that AIESEC offers to collegians. Then, after I was involved into this, I do believe this organization is not only a platform for us, but it’s like the simulation for us before we face career world. The development that i got in AIESEC, such a key to make me survive in my career right now. Right now, i am not a collegian anymore and that is why my perspective about this organization is getting larger and feeling so grateful ever join as part of this organization.

I started my journey here when this organization only had a few people as member and still can be counted by “fingers”. I was the part of this, when a lot of people didnt even know what is actually AIESEC. It’s  like the biggest challenge for me on that time to expand this and how i can attract a lot of people to be aware about AIESEC’s existance. I was doubt on that time, could this organziation survive for long term? Then now, i am really proud to see the progress of AIESEC UNSRI right now, such a pride for us as alumnae and always wish the best for every process that will be faced by AIESEC UNSRI.

After a long journey I’ve been through in AIESEC UNSRI, there’s no regret in my self. Every role that I took here, has taught me a lot how to maximize our potency and how to be an impactful youth for society and world itself. Not only talking about practical experience, but I also experienced how important to live in diversity through exchange program. My exchange program was becoming Global Ambassador in China to do project about culture and environment. From those things, it has changed the perspective of my life even untill now i still keep the value from AIESEC to my career right now!

Feeling beyond blessed thorugh AIESEC and this is really an organization that actually youth needs nowadays. Why? A lot of people already shared their experiences during their life in AIESEC, so, what are you waiting for? You only live once,  let’s gain many experiences that can support our future’s path later on!

 

 

Nuna and Her Experience as AIESEC Alumna

slide19

My name is Zainuna Rahayu, i am one of AIESEC UNSRI’s Alumna.

One day someone asked me to write down my  AIESEC story. it means i should rewind,  flashback and and re-telling  about my awesome experience through AIESEC after having left the organization about 2 years ago and after being away for 2 years. Well, still so EXCITED! All the things about AIESEC experiences are worth to be remembered, AIESEC is always be my favorite topic to be told and discussed.

My AIESEC journey were being an Exchange Participant and went to China on  January 2013, then being Outgoing Exchange manager and after that Fortunetly elected as VP ER and be a part of EB Team for 13/14 term.

Before joining AIESEC, I was an aphatetic youth who’s bored with my collage life, i was used to live in my comfortable box and didn’t have passion to involve in any organization. My daily life was going to university,  going to movies and hangout with friends for coffees. Until one day I heard about AIESEC. I still remember the day i spent my whole day reading all about AIESEC in internet. After the long internet surfing, i got the conclusion that “AIESEC can offer me the life changing experience”, no more waiting I decided to join.

Exchange story that i would like to tell which took place almost 2 years ago, dare to Dream Project by Renmin University Beijing China. That was an experience that i would never forget, not only because i got to see snow for the very first time in my life and visited the great wall, but also I witnessed something far more profound. I learnt how to survive and solve many obstacles, learnt how to represent Indonesia and so many other lesson that i couldnt get in collage. Seriously, it was an amazing feeling to work with diverse people from many other countries who seeing something from many perspectives.

I trully believe, one day the members of AIESEC UNSri will become the leaders that the country needs! Thats why with no doubt, I wanted to be one of AIESEC UNSRI’s founder. In AIESEC I decided to take a role and going for something even more challenging.

AIESEC gave me the opportunity to be an integral part of the business world in my young age, from the very operational level to the highest leadership position. It is learnt by doing. I had had  the opportunity to work towards ambitious goals, dealing with crisis situations, working with teams, managing budgets, learning the companies, NGOs and government, creating and execute and changing process. Well, basically ANYTHING that you can learn in practice in a business, we do in AIESEC. In real life. No simulation.

After having a chance to develop so many different skills in AIESEC like public speaking, presentation, leadership Skill, team work and etc, all I could say is, AIESEC was helping me to become more of who i’m meant to be. This organization provided me such a powerful learning experience.

Looking back, I can only be grateful for all those years with AIESEC. I wouldnt be who i am today if i had not been able to grow personally and professionally through AIESEC. If AIESEC can change my life so it can change yours too.