How is LIFE after AIESEC? (Self-aware Episode)

Hello young people!

Pernah gak sih kepo sama kehidupan AIESECer setelah jadi ‘sarjana AIESEC’? Ngapain sih mereka? Masih ada bekas AIESECnya ga sih mereka setelah lulus?

Daripada bingung dan tambah penasaran, yuk kita simak salah satu cuplikan hasil wawancara dengan Alumni asal AIESEC in Bandung, Kak Inez Natalia, Co-Founder The Intersection Project, dan penulis buku  “Turn Right: A Journey to Purposeful Career” yang mengaku kalau self-aware yang didapatkan di AIESEC berpengaruh hingga kehidupannya sekarang.

Hi Kak Inez! Denger-denger lagi aktif di sebuah proyek ya kak? Boleh ceritain ga kak tentang kesibukannya sekarang?

Aku lagi aktif di The Intersection Project. Proyek ini pusat kolaborasi dari orang-orang yang peduli dan ingin membuat sebuah wadah untuk membantu para dewasa muda mengarahkan kekuatan dan kemampuannya untuk memiliki fokus yang tepat untuk menjalani hidup penuh makna. Kami menyadari bahwa saat ini banyak sekali masalah yang timbul karena ketidaktahuan akan mengapa dan apa yang ingin dilakukan dalam hidup. Aku juga baru launching buku “Turn Right: A Journey to Purposeful Career”. Buku ini merupakan buku yang berusaha untuk mengarahkan para pemuda, agar mengerti purpose dalam membangun career path.

 

Wah keren banget! Sukses terus kak buat proyeknya. Nah sekarang, kita mau kepoin pengalaman Kak Inez selama di AIESEC. Apa saja yang kakak dapatkan selama menjadi AIESECer?

Aku ikut AIESEC di bulan Oktober 2009, terus berlanjut jadi Vice President Talent Management AIESEC Bandung 11/12, Vice President Talent Management AIESEC Indonesia 12/13, dan terakhir President AIESEC Cambodia 13/14.

Banyak sekali hal yang aku dapatkan di AIESEC. Yang pertama adalah mengenai Self Awareness itu sendiri, baik secara professional maupun personal. Self-aware ini menurut aku adalah fundamental utama dari diri seseorang, yang menjadi alasan untuk menentukan pilihan dalam hidup mereka.

Selain itu, aku dapet banget esensi dari the power of possibility and also humanity. “We’re living in a world that is not problem-free. We have option to choose what we do.” AIESEC kasih keyakinan kalau kita bisa melakukan sesuatu dan berkontribusi untuk dunia dengan kekuatan kita masing-masing. Hal ini yang gak aku dapet di organisasi lain. 

 

Inspiratif sekali ka! Nah, gimana sih ka pengalaman AIESEC itu sampe bisa jadi self-awareness yang Kak Inez bilang tadi itu? 

Aku bisa mengembangkan Self Aware di AIESEC, karena AIESEC memberikan self-experience in a challenging environment. AIESEC mengembangkan anggotanya dari learning by doing. Tapi, self aware itu sendiri susah didapatkan kalau tidak ada learning point nya. So, to be self-aware, we have to listen to ourselves and also reflect on what we’ve done in our journey.

AIESEC juga punya acara kaya conference workshop dimana kita bisa berdiskusi tentang pengalaman kita dan mendapatkan insight dan ide tentang bagaimana menjalankan tanggung jawab kita. Ada juga pertanyaan-pertanyaan yang  mentrigger kita untuk lebih memahami dan mengerti tentang diri kita sendiri.

Self-aware ini juga yang sangat berhubungan dengan kegiatan aku sekarang. Buku “Turn Right: A Journey to Purposeful Career” yang aku tulis adalah buku yang mengarahkan orang-orang untuk lebih mengembangkan self-aware di dalam diri mereka sendiri.

 

>
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *